Pantangan Imlek yang Masih Dijalankan Keluarga Tionghoa-Indonesia
Pantangan Imlek adalah larangan yang dijalankan pada hari pertama Tahun Baru Imlek agar keberuntungan tidak terbuang di awal tahun. Yang paling umum di keluarga Tionghoa-Indonesia: tidak menyapu, tidak keramas, tidak memakai baju serba hitam atau putih, serta tidak bertengkar, menangis, atau marah. Intinya menjaga suasana rumah tetap rukun dan penuh harapan baik.
- Tidak menyapu agar rezeki tidak ikut tersapu keluar
- Tidak keramas agar keberuntungan tidak ikut terbuang
- Tidak bertengkar, menangis, atau marah di hari pertama
- Hindari baju serba hitam atau putih; merah dianjurkan
Tabel Ringkasan Makna Shio
| No | Skenario / Konteks | Makna | Pertanda |
|---|---|---|---|
| 1 | Menyapu di hari pertama Imlek | Dihindari; dipercaya menyapu rezeki keluar | Waspada |
| 2 | Keramas di hari pertama | Dihindari; dipercaya membuang keberuntungan | Waspada |
| 3 | Bertengkar, menangis, atau marah | Dihindari; dianggap membawa suasana buruk sepanjang tahun | Waspada |
| 4 | Memakai baju merah atau cerah | Dianjurkan; lambang kegembiraan | Baik |
| 5 | Berkumpul dan makan bersama keluarga | Inti perayaan Imlek | Baik |
| 6 | Memberi angpao kepada yang belum menikah | Dianjurkan; doa dan berkah untuk yang muda | Baik |
Daftar Isi
Pantangan Imlek adalah sekumpulan larangan yang dijalankan pada hari pertama Tahun Baru Imlek, dengan satu tujuan: agar keberuntungan tidak terbuang di awal tahun. Di keluarga Tionghoa-Indonesia, larangan yang paling sering terdengar adalah tidak menyapu, tidak keramas, dan tidak bertengkar. Daftarnya bisa lebih panjang di rumah yang masih memegang adat dengan kuat.
Artikel ini membahas asal dan makna Imlek, cara keluarga Tionghoa-Indonesia merayakannya, pantangan-pantangannya, dan batas antara tradisi budaya dengan ajaran agama.
Apa makna Imlek bagi keluarga Tionghoa-Indonesia?
Imlek adalah tahun baru dalam penanggalan lunar Tionghoa dan menjadi hari raya terpenting bagi banyak keluarga Tionghoa. Maknanya adalah awal yang baru, berkumpul dengan keluarga, dan menghormati leluhur. Kata Imlek sendiri berasal dari bahasa Hokkien yang berarti penanggalan bulan.
Karena Imlek adalah awal tahun, apa yang dilakukan pada hari pertama dipercaya ikut menentukan suasana sepanjang tahun. Dari keyakinan inilah pantangan-pantangan Imlek lahir.
Bagaimana Imlek dirayakan di Indonesia?
Di Indonesia, Imlek dirayakan dengan perpaduan tradisi Tionghoa dan kebiasaan setempat. Menjelang Imlek, rumah dibersihkan menyeluruh, kue keranjang disiapkan, dan malam sebelumnya keluarga berkumpul untuk makan malam bersama. Pada hari pertama, anak-anak dan yang belum menikah menerima angpao dari orang tua dan kerabat yang sudah menikah.
Catatan Karina: Bagi keluarga kami, Imlek berarti berkumpul dan makan bersama.
Di Medan, banyak keluarga Tionghoa berbahasa Hokkien, dan suasana Imlek terasa sampai ke tetangga dari berbagai suku yang ikut berkunjung. Di kota lain seperti Singkawang, Pontianak, Semarang, dan Jakarta, perayaannya punya ciri masing-masing. Perayaan ditutup lima belas hari kemudian dengan Cap Go Meh. Ada keluarga yang merayakannya dengan arak-arakan dan lampion, ada pula yang cukup bersembahyang di rumah.
Apa saja pantangan Imlek yang masih dijalankan?
Pantangan Imlek yang masih dijalankan umumnya berlaku pada hari pertama tahun baru, dan sebagian berlaku sampai beberapa hari sesudahnya. Setiap keluarga biasanya memegang sebagian saja.
Tidak menyapu dan membuang sampah
Menyapu di hari pertama Imlek dipercaya ikut menyapu rezeki keluar rumah. Karena itu rumah dibersihkan sehari sebelumnya. Bila terpaksa menyapu, sebagian keluarga menyapu dari pintu ke arah dalam dan tidak membuang sampahnya hari itu.
Tidak keramas dan tidak memotong rambut
Dalam bahasa Mandarin, kata untuk rambut bunyinya mirip dengan kata yang berarti makmur. Karena itu keramas atau memotong rambut di hari pertama dihindari agar kemakmuran tidak ikut terbuang. Larangan memotong rambut juga dibahas di artikel arti mimpi rambut dipotong.
Tidak mencuci sebelum waktu tertentu
Sebagian keluarga juga melarang mencuci di hari pertama, dengan aturan waktu yang berbeda-beda di tiap rumah.
Catatan Karina: Di keluarga kami ada larangan mencuci sebelum jam 7 malam di hari itu.
Tidak bertengkar, menangis, atau marah
Hari pertama Imlek harus diisi suasana gembira. Bertengkar, menangis, atau marah dipercaya membuat suasana buruk berlanjut sepanjang tahun. Orang tua biasanya lebih sabar terhadap anak-anak di hari ini, dan anak-anak juga diminta tidak rewel.
Catatan Karina: Di rumah kami, pada hari itu dilarang ribut, menangis, atau marah.
Tidak memakai baju serba hitam atau putih
Hitam dan putih adalah warna duka dalam tradisi Tionghoa. Pada hari pertama Imlek, keluarga memilih baju merah atau warna cerah sebagai lambang kegembiraan dan keberuntungan.
Tidak mengucapkan kata-kata buruk
Kata-kata tentang kematian, sakit, atau kemiskinan dihindari. Bila tidak sengaja memecahkan piring, banyak keluarga cepat mengucapkan kata-kata baik untuk "menetralkan" suasana.
Tidak meminjam atau menagih uang
Meminjam atau menagih utang di awal tahun dipercaya membuat urusan uang tidak lancar sepanjang tahun. Urusan seperti ini biasanya diselesaikan sebelum Imlek.
| Pantangan | Bunyi kepercayaan | Makna yang bisa diterima |
|---|---|---|
| Menyapu | Rezeki ikut tersapu keluar | Rumah sudah dibersihkan sebelumnya; hari raya untuk berkumpul |
| Keramas dan potong rambut | Kemakmuran ikut terbuang | Permainan kata yang menjadi doa |
| Bertengkar, menangis, marah | Suasana buruk berlanjut setahun | Menjaga kerukunan keluarga |
| Baju hitam atau putih | Warna duka | Menghormati suasana gembira |
| Meminjam atau menagih uang | Urusan uang tidak lancar | Menyelesaikan urusan sebelum tahun baru |
Apa yang dianjurkan saat Imlek?
Selain pantangan, ada juga kebiasaan yang dianjurkan pada hari pertama Imlek. Semuanya bertujuan mengundang suasana baik di awal tahun.
- Memakai baju merah atau warna cerah sebagai lambang kegembiraan.
- Mengunjungi orang tua dan kerabat yang lebih tua lebih dulu, sebagai tanda hormat.
- Memberi dan menerima angpao dengan dua tangan. Yang sudah menikah memberi kepada anak-anak dan yang belum menikah.
- Mengucapkan salam tahun baru, misalnya "Gong Xi Fa Cai" atau ucapan dalam bahasa Hokkien yang biasa dipakai keluarga.
- Menyalakan lampu rumah dan memasang lampion sebagai lambang terang di tahun yang baru.
- Menyajikan jeruk dan kue keranjang, yang dianggap membawa keberuntungan dan kebersamaan.
Bagi tetangga dan teman yang bukan Tionghoa, cara paling sederhana untuk ikut menghormati pantangan ini adalah tidak bertamu sambil membawa kabar buruk dan tidak menagih utang pada hari pertama Imlek.
Apakah pantangan Imlek termasuk ajaran agama?
Pantangan Imlek adalah tradisi budaya, bukan ajaran resmi agama tertentu. Imlek dirayakan oleh keluarga Tionghoa dengan latar agama yang beragam, termasuk Konghucu, Buddha, Tao, Kristen, Katolik, dan Islam. Sembahyang leluhur dan kunjungan ke kelenteng adalah bagian dari ibadah sebagian keluarga, sedangkan larangan menyapu atau keramas adalah kebiasaan yang diwariskan di rumah.
Karena itu, wajar bila satu keluarga menjalankan semua pantangan, sementara keluarga lain hanya menjalankan sebagian, atau sekadar mengikuti makan bersama dan berbagi angpao. Tidak ada yang lebih benar dari yang lain.
Tradisi terkait yang perlu Anda ketahui
Imlek berkaitan erat dengan tradisi Tionghoa lain sepanjang tahun. Lima belas hari setelahnya ada Cap Go Meh, sekitar April ada Ceng Beng untuk ziarah ke makam leluhur, dan di bulan ketujuh ada bulan hantu dengan pantangannya sendiri. Shio yang berganti setiap Imlek bisa Anda lihat di halaman shio.
Pantangan Imlek pada intinya menjaga hari pertama tahun baru tetap bersih, rukun, dan penuh harapan baik. Menjalankannya atau tidak, menghormati keluarga yang menjalankannya adalah sikap yang paling baik.
